Budaya yang tidak perlu diwariskan

Share on FacebookShare on Google+Pin on PinterestTweet about this on TwitterEmail this to someone

Budaya yang tidak perlu diwariskan

Sekolah merupakan agen transfer budaya berikutnya setelah keluarga. Maka sekolah juga harus berperan aktif dalam melakukannya bukan hanya sekedar memberi penghargaan prestasi akademik dengan hanya memberi nilai.

Ada anggapan yang masih dilanggengkan sampai sekarang bahwa anak yang nilainya bagus itu adalah anak pinter. Dan mengatakan jika kamu ingin sukses maka nilai kamu harus bagus. Belum tentu? Dan menganggap bodoh anak-anak yang nilainya tidak bagus. Anggapan seperti ini termasuk anggapan kuno yang sangat picik. Budaya seperti inilah yang tidak perlu diwariskan. Menjadi seorang guru bukan sekedar memberi pengetahuan dan dan angka sebagai symbol ketercapai tujuan pengetahuan itu namun ada tanggung jawab besar dalam memberikannya.

Pemberian nilai yang baik atas dasar ulangan yang bisa dikerjakan semua dengan benar bukan satu-satunya pertimbangan pemberian nilai. Bahwa proses dalam mencapainya itu lebih penting dari pada hanya mengacu pada hasil akhirnya. Disiplin bukan berarti menjadi guru killer, ramah bukan berarti lembek terhadap anak.

Oleh karena itu mengenali anak satu persatu menjadi tuntutan setiap guru. Hal ini diperlukan untuk memahami perkembagan intelektual dan juga emosi anak sekaligus. Dengan mengenali anak satu persatu maka anak akan merasa dihargai dengan keberadaannya. Selama ini yang menjadi pemahaman bersama bahwa anak yang dikenal oleh guru adalah anak-anak yang pinter, cantik, ganteng, bodoh dan anak yang nakal. Anak-anak yang dalam tataran biasa saja hanya menjadi pelengkap kuota kelas. Hal demikian tentu saja tidak adil bagi mereka. Seorang guru sudah harus menyadari dan berbesar hati bahwa sekolah buka hanya tentang nilai anak didiknya, namun setiap anak didik istimewa dengan cara mereka sendiri baik akademik maupun non akademik.

Sejak awal anak didik diberi pemahaman tentang pentingnya proses dalam mencapai tujuan. Apa yang kita lakukan hari ini akan berdampak pada masa yang akan datang. Dengan demikian anak tidak akan menghalalkan segala cara untuk medapatkan nilai yang baik. Tidak akan ada guru yang dibenci ketika mengawasi ujian disiplin terhadap segala jenis kecurangan. Tidak ada guru yang dicinta karena membiarkan anak berbuat curang.

Beberpa kasus nyata terjadi, anak-anak yang nilainya bagus di raport belum tentu keterima di perguruan tinggi melalui jalur SNMPTN, namun anak yang biasa-biasa saja bisa diterima. Pertannyannya bagaiman dulu nilai itu diperoleh? Dengan pemahaman seperti ini anak akan mampu berfikir dalam mengambil segara tindakan. Belajar, mengerjakan tugas sekolah, dan mengerjakan ulangan bukan soal siapa yang menyuruh dan yang menawasi namun lebih tepatnya adalah tanggung jawab yang harus mereka lakukan dalam rangka proses menuju kesuksesan masa depan.

Dengan proses yang telah tersebut diatas maka akan tumbuh anak-anak dengan jiwa besar bahwa sekolah bukan tentang nilai namun tantang bagaimana mereka menjalani sekolah itu. Pada dasarnya sekolah bukan upaya mencari nilai, toh pada saat terjun kedalam masyarakat nanti tidak akan ditanya berapa nilai matematikamu?, berapa nilai sosiologimu? dan lain-lain. Sekolah pada dasarnya adalah pembentukan jaringan sosial yang lebih luas. Sekolah juga merupakan sarana pendewasaan seorang untuk berinteraksi dengan berbagai karakter yang beragam.

Sekolah menciptakan manusia dengan kualitas intelektual, kultural dan sosial agar mampu memahami realitas sosial yang terjadi, sehingga pada akhirnya mampu bergabung menjadi anggota mayarakat yang lebih luas. Realitas sosial Indonesia jelas beragam karena memang Indonesia adalah Negara multikultur dengan keunikan budaya masing-masing. Berbekal kualias intelektual, kultural dan sosial yang baik maka keragaman bukan menjadi persoalan yang mengancam persatuan.

Lingkungan sosial yang kondusif dan harmonis adalah harapan masyarakat multikultur seperti Indonesia. Namun mengapa kondisi ini belum tergambar dalam realitas sosial kita. Yang mendasar adalah adanya intoleransi terhadap perbedaan. Secara fisik saja manusia satu dengan lainnya berbeda, maka identitas yang melekatpun juga beda. Lantas mengapa ini menjadi persoalan? Ya karena ketiadak siapan mental dalam menerima perbedaan.

Sehingga siapkah anda menerima perbedaan?

Share on FacebookShare on Google+Pin on PinterestTweet about this on TwitterEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>