Cerdas Memilih Makanan Anak

Share on FacebookShare on Google+Pin on PinterestTweet about this on TwitterEmail this to someone

snack

Anak usia dua tahun keatas sekarang ini sudah memiliki keinginan sendiri apalagi berkaitan dengan jajan kesukaan. Mereka sangat tertarik dengan berbagai jajan yang dikemas secara menarik. Betul, yang menjadi pilihan pertama adalah kemasan jajan, misalnya kemasan gambar kartun spongebob, para hero, dan kartun-kartun yang lain. Baru setelah kemasan maka yang menjadi pilihan selanjutnya adalah rasa.

Sekarang ini banyak produsen yang cerdas dengan mengedapankan tampilan produk. Dan biasannya sasaran konsumennya adalah anak kecil. Untuk rasa dan kualitas produk menjadi momor dua. Nah kalau sudah begini siapa yang gak khawatir? Pastilah para mom. Tidak mau kan anak tercinta salah dalam memilih jajan? Oleh karena itu sekarang mom harus cerdas memilih makanan anak yang sehat.

Banyak berita beredar bahwa ada jajanan anak “kotak kado” yang isinya susu kemudian dimasukkan kedalam kemasan seperti kondom. Ngeri gak tuh? Yang lebih mengejutkan lagi jajanan itu tidak terdaftar dalam Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Serta banyak lagi yang memberitakan bahwa beberapa jajanan anak terbuat dari bahan makanan yang sudah kedaluarsa serta mengandung pewarna pakaian. Warna makanan yang menarik juga akan menarik konsumen terutama anak-anak untuk menyukainya. Dengan beredarnya berita yang seperti itu bukan berarti kita harus melarang anak tercinta untuk membeli jajan.

Membeli jajan merupakan kebebasan anak dalam memilih serta merupakan cara untuk memenuhi kebutuhan kalori anak. Selain itu membeli jajan juga mengajarkan anak untuk bersosialisasi dengan lingkungan. Hal ini akan mengajarkan anak lebih percaya diri dan berani untuk bergaul. Solusi terbaiknya adalah mengajarkan anak untuk cerdas memilih jajanan yang sehat. Caranya adalah dengan memberitahunya dengan cara yang sederhana kepada anak akan dampak jajan sembarangan. Untuk anak 2 tahun keatas , anda sebaiknya memberi contoh nyata misalnya jika makan jajanan yang pedas terlalu banyak maka akan sakit perut. Misalnya yang lain ketika anak diare maka pancing dia untuk bertanya mengapa buang air besarnya menjadi lembek dan perutnya sakit. Saat anak sudah bertannya seperti itu maka ini kesempatan untuk anda untuk menjelaskan “buang air besarnya seperti itu karena adek tadi jajan permen coklat”. Dengan demikian anak akan paham bahwa ketika makan permen coklat maka ia akan ingat dengan rasa sakitnya kemudian akan menghindari jajanan tersebut.

Selanjutnya anda bisa memberi contoh ketika anak anda makan permen berlebihan maka tunjukkan kepada anak gigi yang berlubang baik itu gigi anda maupun gigi orang terdekat, asalkan bisa dilihat secara nyata. Tahap berikutnya adalah beri pemahaman kepada anak untuk meminta ijin terlebih dahulu ketika mau membeli jajan sehingga anda bisa melihat jajan apa yang anak anda inginkan dan kemudian bisa menilai tingkat manfaatnya. Bukan berarti anda harus parno dan melarang sama sekali kepada anak untuk jajan.

Jika anak sudah sekolah maka untuk meminimalisir jajan anak, maka anda bisa membawakannya bekal. Banyak yang bilang makanan yang sehat rasanya tidak enak. Pandangan ini harus diputus dan memberikan pemahaman dan bukti kepada anak bahwa makanan yang sehat rasanya lebih lezat dibandingkan dengan jajan sembarangan. Maka catanan bagi para mom harus bisa memasak untuk buah hati tercinta. Jika jajanan itu adalah buatan sendiri apalagi dengan melibatkan anak dalam membuatnya, maka anak akan merasa memiliki peranan penting untuk makanannya sehingga ia akan merasa bangga untuk memakannya. Jika kebiasaan ini dipelihara maka anak tidak akan tergoda untuk membeli jajan sembarangan. Terakhir anda harus paham benar tentang berbagai jajanan yang disediakan di kantin sekolah. Sehingga anda tahu akan bersikap seperti apa. So mulai sekarang perhatikan jajan anak dan siap menjadi mom yang cerdas memilih makanan anak yang sehat.

Share on FacebookShare on Google+Pin on PinterestTweet about this on TwitterEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>