Emansipasi tidak harus Lupa Diri

Share on FacebookShare on Google+Pin on PinterestTweet about this on TwitterEmail this to someone

Emansipasi tidak harus Lupa Diri

Sudahkah anda melakukan emansipasi dengan benar?

Minggu ini berbagai perayaan memperingati hari Kartini diperingati dengan berbagai cara. Ada yang menggunkan kebaya diberbagai instansi, ada juga dengan memberikan bungga mawar kepada setiap perempuan di jalan dan masih banyak yang lainnya. Namun emansipasi kadang membuat wanita lupa diri.

Emansipasi kadang hanya dimaknai sempit, bahwa laki-laki dan perempuan harus memiliki derajat yang sama. Kedudukan yang sama dan jabatanpun harus sama. Ini dalam tataran normal. Namun sekarang  emansipasi dijadikan sebagai alat bagi perempuan untuk mencapai puncak karir yang lebih tinggi dari pada laki-laki. Jadi tidak jarang bahwa sekarang ini jabatan perempuan lebih tinggi dari pada perempuan, bahkan penghasilanpun lebih banyak perempuan dari pada laki-laki.

Dan tak jarang pula kondisi ini menjadikan perempuan menjadi besar kepala, pada akhirnya mengabaikan rumah tangga. Alangkah bijaknya bila perempuan tetap menjadi patner yang paling bijak bagi para suaminya dalam menjalani rumah tangga. Tetap ada saling menghormati, menghargai dan juga toleransi. Bagaimanapun bagi seorang ibu, perempuan adalah sebagai guru yang utama bagi anak-anaknya. Jangan sampai peran ini pada akhirnya diambil alih oleh para guru private dan juga  guru bimbel.

Dengan jasa Kartini yang berani mensejajarkan antara derajat laki-laki dan perempuan seharusnya hal ini patut disyukuri dengan menjalankan fungsi dalam keluarga dengan benar. Tdak ada larangan untuk bekerja disektor public namun dengan tidak melalikan tugas dalam rumah tangga. Sebagai pengalaman, dulu ketika saya menjadi mahasiswa di salah satu Universitas Negeri di Surabaya, banyak waktu luang yang saya pergunakan untuk menjadi guru private di kawasan perumahan elit. Anak yang menjadi anak didik saya salah satunya adalah anak kelas 3 SD. Dia merupakan anak dari pegawai bank Swasta Nasional. Jam 5 pagi sudah berangkat kerja dan baru pulang minimal jam 8 malam. Jadi tidak ada waktu untuk mendidik anak. Maka dari itu orang tuannya menggunakan jasa saya. Anak itu setiap harinya dekat dengan pembantunya.

Nah jika kondisinya seperti ini apa tidak sangat disayangankan anak kita yang kita perjuangkan hidupnya siang malam dengan keras malah dekat dengan pembantunya. Kalau pembantunya baik, jika tidak siapa  yang rugi. Anda sebagai orang tua bukan. Sekarang ini banyak pilihan untuk tetep berkarir dan berkarya namun dengan tidak melupakan keluarga sebagai harta berharga dalam hidup. Diera modern dan globalisasi ini, berada dirumahpun bisa menghasilkan rejeki yang halal untuk keluarga.

Berkarir adalah pilihan dan keluarga khususnya anak adalah kewajiban bagi orang tua khususnya ibu untuk mendidiknya. Allah adalah apa yang engkau prasangkakan. Begitupun pertumbuhan anak adalah sesuai dengan yang anda prasangkakan. Bagaimana jika terlalu sibuk bekerja dan tidak pernah berprasangka terhadap anak?

 

 

Munajat:

Ya Allah yang maha penyayang, saya akui saya masih belum sempurna menjadi ibu.

Saya masih terlalu egois mengejar eksistensi hamba dikalangan teman-teman. Saya bahkah sering lupa apakah anak hamba sudah makan malam atau belum. Saya sering disibukkan dengan urusan kantor sehingga marah ketika anak rewel. Bahkan kadang saya mengeluh ketika suami minta untuk dipijit.

Duhai pemilik segala rahmat dan ampunan bukakanlah pintu maaf bagi hamba. Jadikanlah hamba perempuan dan ibu  yang mulia. Rahmat-Mu lebih besar dari pada dosa-dosa hamba. amin

Share on FacebookShare on Google+Pin on PinterestTweet about this on TwitterEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>