Full Day School Mengabaikan Peran Keluarga

Share on FacebookShare on Google+Pin on PinterestTweet about this on TwitterEmail this to someone

Full Day School Mengabaikan Peran Keluarga.

Hari-hari ini sedang digemparkan dengan wacana full day school. Banyak pihak yang pro dan kontra, namun ada saja yang menganggap itu hanya sekedar gebrakan menteri baru yang memiliki program.

Berdasarkan berbagai sumber mengatakan bahwa latar belakang program full day school ini adalah tentang pendidikan karakter yang juga harus ditanggung oleh sekolah tentu saja setelah keluarga. Selain itu, dengan full day maka anak dapat menyelesaikan berbagai tugasnya di sekolah menyesuaikan jam kerja orang tua sehingga pulang sekolah bisa dijemput orang tua.

Full day school dengan seragam hanya akan memenjarakan anak di sekolah. Mau deprogram seperti apapun hal ini hanya akan membuat anak terpenjara. Walaupun  alasannya pulangnya menunggu orang tua yang selesai berkerja sehingga anak  tetap dalam pengawasan orang tua. Pada intinya, hidup di era modern yang seperti ini logika bukan satu-satunya cara yang bisa digunakan dalam berkehidupan. Dasar dalam berkehidupan seharusnya adalah iman.

Menjadi orang tua berarti tanggung jawab besar untuk mengurus anak. Bukan hanya sekedar membiayai sekolah dan menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada sekolah. hidup adalah pilihan, pekerjaan juga merupakan pilihan maka tanggung jawab sebagai orang tua adalah kewajiban. Semua telah sepakat bahwa keluarga merupakan pondasi pendidikan karakter karena keluarga adalah agen sosialisasi primer dan sekolah hanya sebagai agen sosialisasi sekunder.

Maka jangan biarkan anak jauh (dalam artian) emosional dengan orang tua hanya karena full day school dan juga bekerja. Keluarga adalah satuan terkecil dalam masyarakat yang membangun identitas masyarakat. Keluarga adalah rumah pertama bagi anak, tempat berlimpahnya kasih sayang, tepat yang selalu dirindukan, tempat yang menyenangkan, tempat melepas segala lelah, tempat bermain yang membebaskan dari segala penat aktifitas sekolah. Jika sebagian besar waktu anak dihabiskan di sekolah maka fungsi keluarga akan menjagi sia-sia. Keluarga hanya untuk tempat “say hi” di pagi hari dan menjelang tidur, karena ketika pulang sekolah anak sudah kelelahan dengan  segala aktifitas di sekolah. Walaupun sabtu dan minggu libur, cukupkah dua hari ini menggantikan lima hari komunikasi yang telah hilang?

Dampak negatif yang jelas terasa adalah melemahnya kontrol orang tua kepada anak karena semuanya diserahkan pada sekolah. Bisa dibayangkan jumlah guru dan peserta didik tentu saja banyak peserta didik. Mampukah guru menggung segala kebutuhan emosional anak secara keseluruhan.

Selain menjauhkan anak dengan keluarga, full day school hanya akan mencetak manusia dengan kepribadian individualisme. Mengapa? Karena anak menjadi tidak bisa bergaul dan bermain dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini akan mematikan kehidupan bertetangga karena waktu produktifnya habis di sekolah. tidak ada lagi acara main bola sore hari dilapagan komplek, tidak ada lagi bersepeda bersama, tidak ada lagi main layang-layang bersama, tidak ada lagi main PS bersama. Jika sabtu dan minggu untuk keluarga maka untuk tetangga dan lingkungan mana? Padalah manusia adalah makhluk sosial yang harus senantiasa bergaul..

Berikutnya dilihat dari sisi guru. Guru merupakan manusia biasa yang memiliki kehidupan dan keluarga sendiri. Jika waktunya dihabiskan di sekolah mengurusi anak orang lain, bagaimana dengan anaknya sendiri? Mulia memang namun guru juga orang tua yang harus bertanggung jawab sesuai dengan perannya dalam keluarga.  Haruskah ia mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengabaikan anaknya sendiri? Tentang berkehidupan dengan tetangga, begitu juga dengan guru, guru juga harus tetap menjalani kehidupan sosialnya dengan tetangga agar kehidupan sosialnya tetap harmonis.

Bangsa ini tumbuh dengan prasangka dan banyak orang mengabaikan iman. Bahwa pada dasarnya apa yang manusia prasangkakan akan menjadi kenyataan. Marilah bangun bangsa ini dengan berprasanka positif pada generasi kita sehingga mereka akan tumbuh menjadi generasi yang membanggakan. Semua peran harus seimbang mulai dari keluarga, sekolah dan masyarakat sehingga anak akan tumbuh menjadi genarasi yang sempurna.

Share on FacebookShare on Google+Pin on PinterestTweet about this on TwitterEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>