IT IS MY WAY

Share on FacebookShare on Google+Pin on PinterestTweet about this on TwitterEmail this to someone

Tampil keren dengan membaca

membaca buku

Membaca sungguh mengasikkan. Hal ini akan dirasakan oleh  orang-orang  yang menyukainnya. Namun bagi orang yang memilih cara instan, membaca merupakan kegiatan yang membosankan. Media telah banyak memanjakan masyarakat dengan berbagai suguhan yang instan. Suguhan instan ini berupa video dan film. Masyarakat lebih suka menonton video dari pada membaca, alasannya lebih simpel dan menyenangkan.

Vidio menyajikan gambar dan suara jadi siapa saja yang menyaksikannya akan mendapatkan gambaran yang benar-benar riil bisa dilihat oleh mata. Hal ini berbeda dengan membaca, untuk mendapatkan gambaran seting tempat dan kondisi pembaca membutukkan konsentrasi agar dapat memfisualisasikan apa yang telah dibacanya kedalam dunia imajinasi. Pada masa sekarang semua disajikan serba instan. Tidak hanya makanan dan minuman istan tapi informasi pun disajikan secara instan yang semakin memanjakan masyarakat kedalam kemalasan.

Novel-novel yang bagus mulai dari jaman dahulu hingga keluaran terbaru kini ramai di filmkan, kecelakaan, bencana alam banyak diunggah di situs-situs internet. Masyarakat tidak lagi tertarik untuk membaca dengan alasan “ngapain repot-repot, filmnya sudah ada”. Membaca novel apalagi novel yang tebal, bagi sebagian orang melihatnya saja sudah lelah apalagi membacannya “buku segitu tebalnya kapan kelarnya, bisa-bisa jadi kutu buku”.  Padahal kebanyakan novel yang difilmkan itu lebih bagus novelnya dari pada filmnya.

Novel benar-benar menyajikan seting yang komplek. Bayangkan novel yang berjumlah limaratus halaman difilmkan hanya dalam durasi waktu satu jam sampai satu jam setengah. Sepetinya kurang berkesan dan ingatan tentang film ini pun tidak akan bertahan lama berbeda dengan membaca. Membaca akan menguatkan memori dalam otak  sehingga akan tetap terjaga. Contoh lain yang sedang ramai diperbincangkan adalah tragedi tugu pahlawan Jakarta. Banyak orang memilih untuk membuka You Tube dari pada membaca Koran. Hal ini diperkuat dengan jumlah pengunjung yang sampai sekarang telah mencapai?. cara mempercantik diri dan memasakpun sekarang tersedia dalam bentuk video. Hal ini baik karena menunjukkan ada inovasi baru dalam dunia informasi, namun yang sangan disayangkan masyarakat menjadi kecanduan dan bergeser memilih sajian instan. Tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi membawa dampak positif dan negatif. Namun sebagai manusia yang diciptakan dengan akal pikiran sebisannya menimbang untung dan ruginya.

Membaca merupakan olah raga sikis. Dengan membaca pikiran kita menjadi aktif dan hidup. Jadi mari kita hidupkan semua organ tubuh dengan membaca.Salah satu kesuksesan membaca, pertama adalah dapat memfisualisasikan bacaan kedalam alam pikiran sehingga memposisikan pembaca seolah-olah berada dalam dunia yang sedang dibacannya. Kedua mampu berdiskusi dengan penulis buku dalam pikiran sehingga timbul bantahan, persetujuan dan reaksi yang lain.

Mencintai membaca tidak harus setiap waktu membaca. Kita harus bisa memilah waktu dan tempat yang tepat untuk membaca. Akan sangat mudah menemukan orang membaca dinegara-negara maju seperti  contohnya Jepang. Budaya membaca di Jepang memang telah berhasil bagi semua kalangan. Di Negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia budaya membaca hanya dimiliki olah sebagian kalangan mengah keatas. Untuk golongan bawah hanya sedikit saja yaitu hanya orang-orang yang benar-benar memiliki keinginan kuat untuk maju. Bagi sebagian yang lain waktu, pikiran dan tenaga tercurah semua pada bagaimana memenuhi kebutuhan perut.

Di Negara seperti Jepang orang membaca bisa ditemui di dalam kereta, restoran, ruang tunggu, toilet dan tempat-tempat yang lain yang memungkinkan untuk membaca. Untuk menciptakan budaya membaca kita tidak harus seperti orang Jepang. Budaya membaca seperti itu memang bagus utuk kemajuan SDM namun yang perlu diwaspadai adalah timbulnya sikap individualism. Salah satu dampak negatif dari membaca yang berlebih adalah mempunyai dunia sendiri yang terpisah dari dunia sekelilingnya. Untuk hal inilah diatas ditulis bahwa membaca harus ditempat yang tepat.

Pemilihan waktu yang tepat dipilih agar interaksi dengan lingkungan tetap terjaga. Misalnya saja ketika antri di bank dilakukan dengan membaca. Hal ini kurang tepat dilakukan karena membaca memerlukan konsentrasi agar apa yang telah dibaca masuk dan didiskusikan dalam otak. Membaca ditempat seperti ini bisa saja memutus komunikasi dengan dunia sekelilingnya, siapa tahu didepan, disamping atau tempat yang dekat dengan kita ada orang yang kita kelal maka ketika kita menggunakan waktu ini untuk membaca bisa-bisa kita kehilangan moment yang special dan telah diajarkan pula oleh agama bahwa kita senantiasa harus menjaga tali silaturahmi. Selain orang yang kita kenal ditempat-tempat umum seperti ini merupakan waktu untuk berinteraksi sehingga bisa menambah teman dan bahkan informasi baru. Semua kejadian dan situasi tidaklah sia-sia, semua pasti ada maksud dan tuuannya.

Boleh- boleh saja membaca ditempat umum dan dimanapun tempatnya namun harus dipertimbangkan adalah lingkungan sekelilingnya. Jika keadaan memungkinkan maka membacalah untuk mengisi waktu namun jika ada orang yang bisa diajak komunilkasi maka pilihlah untuk berinteraksi dengannya. Jangan sampai karena hobi membaca yang tidak tepat membuat kita kurang bergaul dengan manusia lainnya. Bergaul dengan banyak orang akan sangat bermanfaat, membuka wawasan, mengenal banyak karakter, membuka inspirasi, terjadinya jaringan kerja sama yang baik. Apalagi bergaul dengan modal hobi membaca makan akan pandai menemukan topoik pembicaraan yang memnyenangkan  dengan tetap memili bobot pengetahuan.

Berdasarkan pengalaman pribadi, saat ituhari jumat saya pergi ke salah satu kota dengan suami. Pada saat ibadah shalat jumat kami masih diperjalanan sehingga kami berhenti di salah satu masjid yang melaksanakannya. Saya memilih untuk menunggu di halaman depan masjid, disitu juga ada ibu-ibu yang sedang menunggu suaminya. Sebenarnya dalam tas saya ada buku yang bisa saya baca namun saya memilih untuk berkenalan dengan salah senorang ibu. Singkat cerita ibu ini juga dalam perjalan pulang dari salah satu pondok terkenal. Beliau ingin anaknya melanjutkan pendidikan dipodok namun anaknya kurang begitu tertarik. Akhirnya saya rekomendasikan untuk membaca sebuah novel yang terinspirasi dari kisah nyata kehidupan seorang anak yang diminta oleh ibunya untuk sekolah dipondok. Novel ini menceritakan lingkungan, proses pendidikan, guru dan seluruh komponen yang ada dipondok sampai pada akhirnya kesuksesan yang diperoleh. Ibu itu sangat berminat untuk membeli buku yang saya rekomendasikan. Dalam hati saya bersyukur, ini semua karena membaca.

Masih banyak tempat dan waktu yang tepat untuk membaca sehingga harus pandai-pandai membagi dan meluangkan untuk membaca yang efektif. Membaca tidak harus buku-buku bacaan yang berat namun harus didasari karena ingn membacanya. Artinya buku yang akan dibaca harus dicintai terlebih dahulu. Jangan sampai karena ingin dianggap keren dan pintar memaksakan membaca buku yang berat, hal ini hanya kan merugikan diri sendiri. Tak sayang maka tak kenal.

Share on FacebookShare on Google+Pin on PinterestTweet about this on TwitterEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>