ProtesTere Liye membuka tabir Literasi Indonesia

Share on FacebookShare on Google+Pin on PinterestTweet about this on TwitterEmail this to someone
ProtesTere Liye membuka tabir Literasi Indonesia

ProtesTere Liye membuka tabir Literasi Indonesia

Hari Literasi dunia telah ditetapkan oleh sejak 1964 oleh UNESCO yang jatuh pada tanggal 8 September. Hari literasi ditetapkan sebagai bentuk kepedulian terhadap pengembangan wawasan masyarakat dunia atau bisa dikatakan menjadikan masyarakat menjadi melek dunia.

Baru-baru ini Indonesia dikejutkan oleh keberanian seorang penulis kondang Tere Liye memprotes perpajakan yang dikenakan terhadap penulis buku.  Keberanian ini ditunjukkan dengan berani menghentikan seluruh  penerbitan karya Tere Liye. Dengan kondisi ini maka akan membuat para pecinta novel Tere Liye bersedih dan akan sangat kehilangan.

Protes ini membuka pengetahuan baru bahwa ternyata dunia literasi Indonesia masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Penulis yang mampu mengangkat kehidupan sederhana namun sangat riil dalam masyarakat Indonesia menjadi kemasan novel yang menarik. Kehidupan sosial dan budaya yang digambarkan menjadikan para pembaca sadar akan keadaan Indonesia yang sesungguhmya. Tulisannya mampu membangunkan para pembaca dari euphoria romantisme yang selama ini membuai.

Namun sangat disayangkan bahwa sumbangsih yang besar terhadap dunia literasi Indonesia tidak mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah. Hal ini terbukti dengan berbagai pemotongan pajak dari setiap penerbitan buku.

Kayak di edukasi KOmpas.com

untuk ide dalam setiap penulisan hanya dihargai 10% sampai 12,5% saja. Betapa sangat memprihatinkan. Semua orang tentu saja bisa menulis, kalau hanya sekedar corat-coret. Namun tidak semua orang dikarunia kemampuan, inpirasi dan kreatifitas menulis sehingga bisa menghasilkan karya yang luar biasa.

Patutlah kiranya penghargaan yang besar diberikan pada para penulis yang telah memberikan sumbangan terhadap dunia Literasi Indonesia. Kapan budaya berbicara akan berganti menjadi budaya membaca jika penghargaan terhadap para penulis sangat mempihatinkan. Tidak bisa dipungkiri bahwa penghargaan yang baik akan sangat memotivasi para penulis untuk berkarya lebih baik lagi. Kondisi psikologis sangat menentukan produktifitas penulis sehingga butuh perhatian khusus.

Dengan kasus ini semoga semua pihak sepakat dan bertindak secara riil untuk terus memotivasi para penulis dalam berkarya. Dan selayaknya profesi penulis mampu menghidupi penulis dan keluarga bukan hanya sekedar sampingan belaka.

Mari bersemangat dan kompak untuk menghidupakan Literasi Indonesia.

Share on FacebookShare on Google+Pin on PinterestTweet about this on TwitterEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>