Wacana “Anak jurusan Ipa tidak boleh kuliah kuliah jurusan IPS”

Share on FacebookShare on Google+Pin on PinterestTweet about this on TwitterEmail this to someone

kuliah

Delapan hari sebelum pergantian tahun 2018, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan atau sering disebut dengan sebutan Mendikbud, Muhadjir Effendi, menggulirkan wacana bahwa siswa SMA jurusan IPA tidak boleh mengambil kuliah di jurusan IPS. Hal ini tentu membuat gempar siswa siswi SMA se antero Indonesia. Dikutip dari Fajar.Co.Id “Mungkin kedepan diharapkan bisa dibuat kebijakan untuk tidak membolehkan siswa IPA mengambil kuliah sosial. Saya sudah bicarakan dengan Menristek karena memang SDM IPA yang banyak dibutuhkan Indonesia,” ujar Muhadjir. Banyak yang pusing tujuh keliling menanggapi wacana ini dan ada juga yang biasa saja menanggapi hal ini.

Wacana ini dicetuskan karena melihat minimnya sumber daya manusia yang menguasai bidang SAINTEK. Padahal berdasarkan perhitungan jumlah siswa SMA IPA mendekati 70% sedangkan sisanya adalah siswa SMA IPS. Namun, setelah memasuki perguruan tinggi banyak siswa jurusan IPA yang memutuskan untuk melakukan lintas jurusan dan mengambil jurusan ips atau jurusan sosial. Hal ini jelas sangat terbalik.

Sistem pendidikan di Indonesia yang berubah ubah memaksa siswa siswi untuk beradaptasi dengan kebijakan kebijakan baru. Salah satu kebijakan yang diajukan Mendikbud (Muhadjir Effendi) adalah mewacanakan larangan bagi siswa-siswa jurusan IPA untuk mengambil jurusan sosial di perguruan tinggi. Hal ini tentu menimbulkan pertentangan dari berbagai pihak.

Ada beberapa pihak yang setuju dengan wacana tersebut dan  meminta pemerintah untuk segera merealisasikan kebijakan tersebut dengan berbagai alasan. Salah satu alasan yaitu banyaknya siswa IPA yang lintas jurusan bisa mempersulit siswa IPS untuk mendapatkan kuota jurusan sosial di perguruan tinggi, jadi akan lebih baik jika siswa mengambil kuliah sesuai dengan peminatannya sewaktu SMA. Hal ini bertujuan agar kemampuan yang dimiliki lulusan lulusan indonesia  lebih spesifik dan memiliki potensi yang unggul dibidangnya karena bekal ilmu yang ia pelajari sewaktu SMA.

Selain itu, ada pihak yang tidak setuju dengan tidak diperbolehkannya anak SMA IPA untuk lintas jurusan. sebab menurut mereka wacana tersebut akan membatasi hak siswa dalam memilih masa depan mereka. Anggapan ini didukung oleh fakta bahwa terkadang penentuan jurusan di SMA tidak selamanya dilandasi oleh minat siswa itu sendiri. Bisa jadi karena pihak sekolah megadakan psikotes yang hasilnya bisa saja tidak valid, serta faktor lain seperti desakan orang tua agara anaknya masuk jurusan IPA.

Jika kita berada di kubu netral, kita bisa melihat bahwa wacana pemerintah untuk melarang adanya lintas jurusan patut dipertimbangkan. Hal ini mungkin pada awalnya akan menimbulkan banyak perdebatan. Namun, kita juga harus melihat efek jangka panjangnya . Jika wacana ini benar benar dilaksanakan maka akan ada persamaan pandangan terhadap jurusan IPA dan IPS. Kita juga harus mempertimbangkan juga bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih jauh dibawah yang diharapkan.Para generasi penerus negeri ini, dicetak sedemikan rupa seperti robot multitalent, tanpa diketahui apa sebenarnya bakat dan minat yang dimiliknya. Selain itu hal buruk akan terjadi jika keinginan seseorang dipaksakan keinginannya atau memilih bidang yang tidak memiliki kemampuan di dalamnya.

Tentu hal ini menjadi PR besar bagi pemerintah agar melihat dari berbagai sudut pandang. Selain itu, para siswia siswi juga harus menyiapkan mental untuk mengikuti kebijakan apapun yang telah ditetapkan.

Share on FacebookShare on Google+Pin on PinterestTweet about this on TwitterEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>